Berhubung malam ini saya sulit tidur lagi, maka saya akan melanjutkan kisah pembullian saya semasa SD.
Jadi, setelah saya pulang membawa anak ayam berwarna merah itu, sesampainya di rumah belum ada 6 jampun anak ayam itu sudah terlihat hampir mati, padahal waktu itu sudah diberi makan dan minum. Mungkin karena itu anak ayam negeri yang perlu perawatan khusus. Saya tidak tahu tentang itu dan orangtuapun juga tidak tahu sehingga pada akhirnya anak ayam itu mati. Bukan suatu hal yang mengejutkan bagi saya dan keluarga saat anak ayam itu mati, yang jadi permasalahan di sini ialah eesokan harinya di sekolah saya. Pada pagi hari belum juga bel masuk sekolah, si mawar berlari sambil nangis-nangis di hadapan saya. Dia menangis lantaran dia habis dipukuli oleh ibunya karena dia cerita pada si ibu tentang anak ayam yang dia dapatkan, namun sudah diberikan pada saya. Ibunya sangat marah sebab hal itu, sehingga ia menjadi bulan-bulanan sang ibu. Sampai Mawar membawa saya ke toilet untuk menunjukan bekal pukulan dari ibunya yang meninggalkan tanda di punggungnya. Tanda itu benar adanya.
Saat itu saya percaya, tapi setelah dewasa saya merasa bodoh, bisa jadikan itu tanda bekas kerokan?! Sayapun menjadi merasa berdosa. Lalu si mawar meminta kembali anak ayamnya, tapi dengan sangat menyesal saya bilang "anak ayamnya sudah mati". Kemudian mawar terlihat kecewa dan dengan entengnya dia bilang, " yah gimana donk, nanti mamaku marah lagi, ya udah ganti uang aja deh", saya tanya berapa uang yang harus dibayarkan untuk mengganti anak ayam itu dan lagi-lagi dengan entengnya dia menjawab "2juta". Bodohnya saya, untuk kesekian kalinya saya tertipu lagi. Saya percaya bahwa anak ayam saat itu memang harganya semahal itu. Namun, saya mana punya uang sebanyak itu, lalu dia bilang untuk menyicil hutang saya yang 2 juta setiap hari dengan memberi jatah uang jajan saya padanya. Sayapun mengiyakan.
Satu tahun saya tidak pernah jajan di sekolah, karena uang jajan saya masuk ke saku dia. Tanpa orangtua saya ketahui, betapa tertekannya saya semasa sekolah di sana. Dengan ancaman-ancaman yang di berikan Mawar pada saya. Saya pernah di ajak ke rumahnya, dan di suruh jadi adik angkatnya dengan masuk agama dia. Lalu saya kabur begitu saja pas dia ke dapur. Semua barang-barang saya yang lucu-lucu di mintanya, tanpa saya berani menolak. Saya selalu berbohong pada orangtua saya ketika ditanya kemana barang-barang saya. Saya tidak pernah membuka kisah itu pada orangtua saya.
Hingga pada suatu hari pas di kelas baru caturwulan baru, ibu saya yang ternyata sudah curiga mendapati mawar menggunakan jepitan milik saya yang saya bilang hilang pada orangtua saya. Kecurigaan ibu saya semakin kuat ketika melihat dari luar kelas mawar selalu mendekati saya, dan saya sangat ketakutan. akhirnya ibu saya mengutus seorang "Bodyguard" ia siswi kelas 6 yang tak kalah sangarnya untuk menjaga saya. Kebetulan bodyguard saya ini punya adik yang satu kelas dengan saya. Sehingga adiknya pun jadi mata-mata. Mawar mulai menjauhi saya dan tidak berani mendekati saya lagi. Sampai akhirnya saya dipindahkan sekolah oleh ibu saya pada caturwulan ke-2 ke sekolah yang jaraknya lebih dekat dengan rumah. Di situlah saya mulai kehidupan baru dengan teman-teman yang baru.
Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi saya khususnya yang sebentar lagi jadi orangtua agar selalu mau mendengar keluh kesah anak di luuar sepengetahuan kita. Jangan sampai masa-masa tumbuh kembang anak kita menjadi tersendat sebab hal-hal yang bersifat mengancam baik fisik maupun psikis mereka.
Save our Children Moms...
Sabtu, 07 Maret 2015
Korban Bullying (Tamat)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Hallo,,,
BalasHapusMau numongpang tanya dong mb???
Hallo,,,
BalasHapusMau numongpang tanya dong mb???