Ini adalah cerita kehamilan pertamaku. Sekarang anakku sudah lahir dan sudah berusia 1 tahun. Sebenarnya sebelum menikah, aku dan suami berkomitmen untuk tidak punya anak terlebih dahulu sampai kami berdua lulus dari studi S1 kami. Sebulan- dua bulan sampai bulan ke-tiga kita tetap pegang teguh komitmen, karena kami tahu resiko punya anak saat kami masih kuliah seperti apa. Apalagi dengan keadaan kami yang sangat sederhana. Anak adalah amanah yang harus dijaga, diperjuangkan hidupnya. Dari hal itulah kami berfikir dua kali untuk tidak punya anak terlebih dahulu.
Pada bulan ke-empat seorang sahabat yang baru sebulanan menikah memberi kabar behagia tentang kehamilannya, dan entah kenapa aku merasa cemburu. Pada akhirnya prinsipku dan suami goyah. Yah.... Akhirnya kepada Allah-lah kami berserah diri dengan apapun kehendakNya. Hingga pada bulan ke-lima, seiring berhentinya aku dari pekerjaanku karena harus ikut pindah bersama suami, aku belum juga mendapatkan tamu bulananku. Hal yang biasa bagiku, saat telat datang bulan. Namun, aku sudah sedikit curiga dan sempat bertanya-tanya tentang tanda kehamilan.
Setelah kurang lebih seminggu telat haid, perasaanku mulai tak menentu. Terlebih aku harus pindah rumah baru dengan lingkungan baru yang belum membuatku nyaman. Di tempat ini, aku menjadi sangat pemalas, cengeng, merasa cemas dan perasaan negatif lain campur aduk. Begitupun suamiku, Beliau jadi malas kerja, merasa masa depannya suram, sering marah. Aku pikir rumah ini tidak cocok dengan kami. Secara, ternyata di dalam rumah ini ada sebuah sumur besar yang tersembunyi di belakang tembok dapur, yang baru aku ketahui setelah semua perabotan rumah tangga kami di rapikan. Dengan sangat terpaksa aku menerima keadaan ini. Dalam keadaan seperti ini, baru aku melakukan testpack yang hasilnya adalah positif. Ya... Aku hamil, bahagianya aku dan suami. Segera malam itu juga aku memberi kabar pada ibu, adik dan temanku via BBM kabar gembira ini. Pada saat aku memeriksakan kehamilanku pertama kali ke bidan, ternyata aku sudah hamil 7 minggu.
Ternyata tidak mudah mengahadapi kehamilan saat itu. Aku selalu membayangkan hal yang indah-indah saja, pada kenyataanya baru aku tahu perjuangan seorang ibu dimulai sejak ia hamil. Subhanallah, Mahasuci Allah... Hamilku saat itu sangat-sangat penuh air mata, emosi, dan tenaga. Morning sickness setiap pagi, dan tak hanya morning, melainkan afternoon, night juga. Tidurku tak nyenyak karena terbayang-bayang sumur itu, sampai sering mengigau yang aneh-aneh. Jika, suami masuk malam, aku di antarkan beliau ke tempat adikku yang sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena saat itu kami kehilangan kendaraan kami sehingga harus berfikir bagaimana cara sampai ke kostan adikku saat itu. Terimakasih suamiku atas kesabaranmu.
Hingga aku lelah merasa seperti ini terus, aku ingin pulang kampung, ingin tinggal dengan ibuku saja rasanya. Suamiku bingung karena saat itu kami tak punya cukup uang untuk ongkos. Selain ingin pulang, akupun ingin pindah rumah karena aku merasa aura rumah itu sangat negatif.
Suatu malam, aku dan suami berselisih karena suamiku saat itu harus kerja malam, aku yang biasanya menginap di tempat adikku sudah merasa di puncak kelelahan harus bolak-balik tiap malam, pulang pagi antara rumah dan kostan adikku. Suamiku ingin aku tetap menginap di kostan adikku karena beliau mengkhawatirkan keadaanku dan tidak yakin aku bisa bertahan di rumah sendirian. Sedangkan aku, sudah lelah namun di dalam hati aku juga tidak yakin pada keberanianku. Sebisa mungkin aku meyakinkan suamiku bahwa aku bisa menghadapi ini, suamiku keukeuh pada keyakinannya bahwa aku tak bisa. Akhirnya aku menangis dan mau tak mau malam-malam berangkat menuju kostan adikku. Sambil berjalan berdua dengan suami, beliau saat itu membawa sepedanya hendak mengantar aku ke jalan raya, tak sengaja lewat depan rumah seorang ibu yang sudah sepuh. Ibu itu sedang duduk d terasnya sambil mendengar pengajian yang ada di masjid, beliau bertanya pada kami "mau kemana malam-malam begini?" saat itu waktu menunjukkan pukul setengah sepuluhan, akhirnya suamiku menjawab panjang lebar kronologisnya. Si ibu mendengar jawaban suamiku mungkin iba, akhirnya beliau menyuruhku untuk tidur dirumahnya, karena kebetulan beliau tinggal sendiri di rumah yang besar.
Saat itu, tak serta merta tidurku pulas. Malam hari aku terbangun karena haus dan kegerahan. Tak ada minum, tak ada kipas angin. Si ibu yang tertidur disebelahku mendengkur dengan suara yang keras, membuat aku semakin sulit untuk tidur. Sampai subuh akhirnya aku terjaga, segera aku pulang setelah adzan subuh berkumandang, karena aku sudah merasa berani untuk pulang.
Malam berikutnya aku berani untuk tetap di rumah sendirian, suamikupun kali ini yakin bahwa aku berani. Entah apa yang membuat aku berani saat itu, mungkin karena rasa lelah yang sudah di ubun-ubun. Saat tidur sendirian aku terus terbangun setiap jam 3 sampai dengar adzan aku terjaga dan melaksanakan sholat baru aku kembali tidur.
Singkat cerita, suatu pagi aku ditemani seorang tetangga mencari rumah baru dan dapat. Suamiku memberikan pilihan antara pindah atau pulang kampung, karena budget yang kami miliki hanya untuk salah satu. Akhirnya aku memilih pindah dan segera kami pindah ke tempat baru.
Di tempat baru ini, aku merasa lebih nyaman.... namun, baru beberapa hari aku pindah rasanya gak tahan sekali menghadapi kehamilan ini, rasanya tidak ada solusi menghilangkan rasa tidak nyaman ini. mulai dari pusing, mual, sesak nafas sampai pada akhirnya rasa itu memuncak di usia kandungan 2 bulan. Suami harus libur bekerja dan kuliah demi menemaniku di rumah, akupun hampir menyerah dan bilang sama suami saking sudah gak kuatnya "Abi... aku kan hamil belum 4 bulan, katanya kalo hamil belum 4 bulan demi kesehatan gak papa kalo kandungannya digugurin" Suamiku lantas marah. Alhamdulillah itu hanya diucapkan saja tidak dijalankan. Aku akan sangat menyesal bila itu terjadi.
Akhirnya suamiku mengantarkan aku pulang ke kampung halaman, agar beliau bisa fokus kerja di sini dan akku ada yang jaga di sana.
Alhamdulillah pada usia kehamilan 4,5,6 bulan aku merasa nyamaaaan sekali. bisa merasakan makan enak tidur enak dan tidak banyak keluhan. pada trimester akhir perasaan itupun kembali datang di tambah kali ini stress hanya gara-gara tidak bisa tidur malam. Tiap pagi nangis gara-gara sholat subuh kesiangan akibat tidur selalu menjelang subuh, merasa tidak bisa jadi istri yang baik dan perasaan negatif lain. itu terjadi sampai usia kandungan 9 bulan.
Sampai pada akhirnya tanggal 8 Mei 2016 dari pagi perutku mulas dengan teratur. Suamiku sudah menduga bahwa aku akan melahirkan, namun, aku tidak yakin. Sampai pada jam 18.00 WIB mulasnya semakin sering, aku mulai takut karena kalau harus lahir sekarang suamiku kerja masuk malam. Jam 21.00 WIB suami berangkat kerja, beliau pesan kalau ada apa-apa untuk cepat menghubungi dia. Benar saja pada jam 10.00 WIB mulasnya sudah gak tahan. Aku hubungi suamiku untuk pulang, dan menghubungi ibuku bahwa aku mulas-mulas. Benar saja pas aku coba untuk BAB yang keluar ternyata darah berwarna pink. Segera aku telepon suamiku bahwa aku akan melahirkan. Suamiku cepat pulang (kebetulan tempat kerjanya dekat) dan mengantarkan ke bidan. Ternyata saat itu sudah pembukaan 6. Rasa mulas itu semakin menjadi, aku teriak-teriak di bidan saking sakitnya. Eh... bu bidannya marah.. Hehehe pas sudah menjelang persalinan malah mati lampu, tadinya mau pasang lilin tapi karena aku takut dan jijik sama lilin akhirnya kita pakai lampu senter yang banyak, jadi suami saat itu menyoroti lampu senter juga ngipasin. Makasih ya suamiku... Setelah mengejan kurang lebih tujuh kali akhirnya Jagoan kami hadir ke dunia pada pukul 13.30 WIB. Baru deh listriknya nyala :) dan hasil ngamuk di bidan adalah 8 jaitan. Hehe.... Tapi semua rasa sakitnya hilang setelah jagoan kami lahir. Terimakasih Ya Alloh....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar